Catatan Kecil

LiVe is SimPle… makE a choiCe, doN’t Look bAck, and Do yoUr beSt.

Archive for February 2010

Hongkong – Beijing (Bagian 4)

with 12 comments

The Great Wall of China


Hari ketiga dikota Beijing. Agenda hari ini adalah mengunjungi tembok besar China. Dari rencana perjalanan yang telah diatur, kami akan menuju Badaling Great Wall dengan menggunakan transportasi umum (Subway/Bus). Tetapi hari itu kami diberikan fasilitas lagi, untuk menggunakan mobil yang telah disewa dan khusus mengantarkan kami ketembok besar China. Sang supir begitu ramah kepada kami, hanya saja diantara kami berlima yang sangat faseh zhongwennya (mandarin) adalah jeng Devi. So, dialah yang menemani supir selama perjalanan didalam mobil pada hari itu, yang laen? bisa … molor, hahaha.  Diawal-awal perjalanan, sang supir bercerita sesuatu tentang kota Beijing, Tembok China dan cuaca semasa musim dingin. Supir menyarankan agar kita pergi ke Juyongguan Great Wall, karena lokasi yang lebih dekat dengan kota Beijing. Estimasi menggunakan mobil untuk Badaling great wall adalah 2 jam, sedangkan Juyongguan great wall hanya 1 jam 30 menit. Kita dapat menyusuri tembok besar Juyongguan yang akhirnya akan sampai pada Badaling great wall.

*pada bagian akhir cerita akan saya berikan itinerary yang seharusnya kami jalani, beserta tips-tips untuk menghemat waktu perjalanan selama di Beijing.

Entah beruntung atau bagaimana, pada hari itu salju turun dari langit tepat beberapa saat setelah sang supir bercerita tentang salju. Begitu terkagum-kagum melihatnya, sontak yang lagi tidur ikut bangun menyaksikan salju turun dari dalam mobil, hehe. Setelah sampai di Juyongguan great wall, akhirnya bisa menikmati turunnya salju. Dingiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnn, sampai-sampai tangan saya tidak merasakan apa-apa lagi. Deary yang pertama kali menyadari bentuk salju yang sangat unik. Bentuknya simetris dari beberapa buah segitiga yang digabungkan, sungguh suatu ciptaan tuhan yang maha kuasa. Dari butiran air bisa menjadi butiran es yang sangat halus.

Tiket masuk Juyongguan great wall sebesar RMB40. Saran yang harus diperhatikan untuk melewati tembok besar adalah, jangan memilih tembok yang berbukit dan menanjak. Kita akan kehabisan tenaga terlebih dahulu, sebelum mencapai puncaknya. Pilihlah tembok China yang datar, sehingga kita dapat berjalan dari ujung yang satu ke ujung yg lainnya. Ditambah lagi sewaktu kami kesana, suhu udara sedang tidak bersahabat. Alhasil, napas sudah tinggal 0.5 cc diparu-paru 😀 . Sebagai informasi, tembok besar China terbentang dari ujung timur dan hingga barat daratan China. Ada beberapa bagian tembok yang tidak menyatu dengan bagian tembok utama. Juyungguan adalah view point terdekat dari kota Beijing. Selain Juyungguan juga ada Badaling dan Mutianyu great wall. Kita dapat memilih sendiri tujuan dari tembok besar yang ingin kita lihat.

Setelah lelah mendaki dan puas berfoto ria, saatnya melanjutkan perjalanan menuju tempat wisata berikutnya. Yang ingin dituju kali ini adalah air terjun. Sebenarnya tidak masuk dalam daftar perjalanan kami selama di bejing. Tapi mumpung mobil dapat membawa kami kesana, ya sudahlah .. dijalani saja ^^. Setibanya disini, bukan malah dapat air terjun, tetapi malah melihat gurung tertimbun salju dan sungai-sungai yang beku. Ditambah lagi dengan biaya masuk daerah wisata sebesar RMB 100, maka kami memilih untuk tidak memasukinya. Untuk mengobati rasa kecewa, kami berjalan kaki pulang menuju gerbang depan (sebelumnya harus menggunakan mobil khusus untuk mencapai daerah air terjun). Diperjalanan inilah, kami bermain-main salju dan bersuka ria dengan sisa-sisa salju dipinggiran jalan. Setelah sampai diparkiran mobil, perutpun terasa lapar dan saatnya makan siang (sudah lewat sebenarnya).

Sang supir membawa kami kesebuah rumah makan all you can eat. Menu yang tersedia adalah daging sapi, kambing, cumi, ikan, bakso ikan, udang, sayur-mayur, buah2an dan minuman susu kedelai. Dalam pikiran saya, pastilah harganya mahal untuk makanan ini. Setelah tidak sengaja terlihat disalah satu tembok, tertera angka 29 kuai a.k.a RMB29, saya pun menanyakan harga makanan ini. Ternyata memang RMB29 untuk setiap orang, dengan porsi makanan sepuasnya. Betapa murahnya jika dibandingkan dengan menu serupa di Taipei. Setelah kenyang, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke Beijing. Sebelum pulang ke apartemen, perjalanan hari ini kami habiskan  dengan mengunjungi sahabat jeng Devi untuk berliturahmi.

Untuk mengisi kekosongan dimalam hari, kami keluar untuk membeli makanan disebuah restoran dekat dengan apartment. Disambi juga dengan adanya akses internet direstoran tersebut, jadinya lumayan untuk hanya sekedar mengecek email atu berskype ria. Secara di China gak bisa buka youtube dan facebook, jadilah internet dihabiskan untuk membaca email-email yang telah masuk inbox.

Read the rest of this entry »

Advertisements

Written by nRa

Friday, February 19, 2010 at 11:02 pm

Hongkong – Beijing (Bagian 3)

with 7 comments

Dinginnya suhu Beijing dan Ski resort area

Hari-hari berikutnya selama lebih kurang seminggu akan kami lalui dikota besar ini. Setibanya di Beijing west station, kami berlima dijemput oleh Mr. Chang untuk diantarkan kerumah abangnya Deari, Chicco Mutaqin. Sebelumnya kami sempat mengambil beberapa video tentang kedatangan di Beijing west station, kami berlima telah menggunakan pakaian yang super tebal, hehehe. Suhu di Beijing saat itu adalah nol derajat. Lebih dari satu jam perjalanan menggunakan mobil, akhirnya kami tiba di US Federal apartment. Sebuah apartment dikawasan Chaoyang, komplek kedutaan negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan China.

Sore itu, Beijing terasa sangat dingin bagi kami berlima. Setelah beristirahat sejenak, makan malam dan membersihkan diri. Kami memutuskan untuk menggeledah area disekitar tempat kami tinggal. Berjalan yang tak memiliki arah dimalam hari yang dingin, sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Sisa-sisa salju masih berserakan dipinggiran jalanan kota Beijing. Akhirnya dapat juga memegang dan merasakan salju, walaupun hanya sisa dipinggiran jalan.

Keesokan harinya, kami dijemput oleh Mr.Chang dan diantar ketempat wisata  Yu Fon Shan Ski resort. Perjalanan menggunakan mobil sekitar 1 jam 30 menit. Tiket masuk kearea ski sebesar RMB 20 dan biaya sewa peralatan ski adalah RMB 140 untuk 2 jam. Kelebihan dari waktu yang telah ditentukan akan dikenakan biaya tambahan per sepuluh menit sebesar RMB 20.

Dengan segala keterbatasan kemampuan dan kesempatan pertama untuk mencoba papan ski, kami begitu antusias untuk langsung mencobanya. Kesan pertama? susaaaaaaahhhhhhhhh … hehehehehe. Bahkan untuk memasang papan ski pada sepatu khusus yang telah dipakai, harus menghabiskan waktu hingga setengah jam 😀 . Setelah mencoba untuk beberapa waktu, akhirnya memberanikan diri meluncur dari ketinggian yang paling landai ^^. Read the rest of this entry »

Written by nRa

Wednesday, February 17, 2010 at 2:52 am

Hongkong – Beijing (Bagian 2)

with 13 comments

Kereta 24 jam dan pencarian salju

Keesokan harinya, Jumat 29 Januari. Tibalah saat yang dinanti-nantikan, sudah tidak sabar rasanya ingin menginjakkan kaki diibukota negeri tirai bambu. Tetapi sebelum itu, perjalanan jauh harus kami tempuh terlebih dahulu. Sebelum berangkat ke stasiun, kami sempat mampir dibeberapa pertokoan daerah Kowloon sekalian makan siang. Sungguh mengagumkan, barang-barang elektronik disini harganya lebih miring. Terlihat sekilas Acer Liquid dengan harga HK$ 3,300 dan special price HK$ 1,400. Jika dibandingkan dengan harga di Taipei NT$ 16,900. Sungguh suatu perbedaan yang lumayan ^^. Ditengah kesempitan waktu untuk check out dari penginapan, saya sempat mengambil gambar mesjid Kowloon yang jaraknya hanya 5 menit berjalan kaki dari penginapan Lee guest house.

Karena kami melakukan perjalanan berlima, jadilah taxi sebagai alat transportasi yang paling efektif di Hongkong. Hanya 10 menit dari penginapan menuju Hunghom stasiun. Sekitar pukul 13 kami telah tiba di Hunghom stasiun untuk menunggu kereta menuju Beijing (http://www.mtr.com.hk/eng/intercity/index.html). Tiket kereta dapat dibeli di Hunghom stasiun. Untuk sekali perjalanan, tidak lebih dari HK$ 500 dengan kualitas Hard sleeper. Hard sleeper memiliki kapasitas 6 penumpang perkamar, 2 bawah, 2 tengah dan 2 atas. Jika membeli tiket pulang-pergi akan mendapatkan diskon 20%. Mungkin memang nasib yang tidak berpihak pada kami berlima. Kami tidak kebagian tiket round trip, dikarenakan oleh peak season tahun baru China. Terlebih lagi, kami harus berpisah 3-2, untunglah biliknya masih bersebelahan. Sehingga tidak sulit untuk berkomunikasi (baca: maen capsa).

Pengecekan imigrasi Hongkong telah selesai, saatnya memasuki kawasan internasional menuju kereta keberangkatan. Kami langsung menuju kereta untuk melepas penat, karena barang bawaan yang segudang, hahaha (lebay). Saya mendapatkan tempat tidur bagian atas. Sungguh, suatu siksaan bagi orang yang bertubuh tinggi jika berada pada bagian tengah dan atas. Untuk dudukpun, kita harus menunduk ^^. Saya sendiri harus mununduk jika ingin duduk ditempat tidur. Saran bagi yang ingin sedikit merasa nyaman di hard sleeper bed, pilihlah bed bagian bawah.

Saatnya berleha-leha diatas kerata, karena kereta yang kami tumpangi akan menempuh perjalanan selama 24 jam diatas rel. Bisa membayangkan jika harus melakukan perjalanan sendiri, betapa bosannya ^^. Kartu pun mulai dikeluarkan, saatnya mengimplementasikan ilmu yang telah ditimba di Makau (kidding). Dimanapun, kapanpun, permainannya tetap Capsa, hahaha. Dibagian depan kamar terdapat 2 buah kursi dan sebuah meja yang melekat pada dinding kereta. Meja itulah yang menjadi saksi keahlian kami berlima dalam bermain capsa. *meskipun ahli, masih aja belum bisa ngalahin mbak Melly, hahahaha.

Persiapan matang juga harus dilakukan didalam perjalanan 24 jam ini. Terutama mengenai makanan. Tipikal orang China, hampir sama dengan orang Indonesia. Kebanyakan dari mereka sangat menyukai mie instant. Emang asalnya mie dari China kali, hehehe. Tetapi bagi orang Indonesia (terutama saya) tidak akan kenyang jika belum menyentuh nasi 😛 . So, bekal sudah disiapkan sebelum perjalanan dimulai. Didalam kereta, juga terdapat penjual makanan siap makan. Para penjual makanannya adalah karyawan dari perusahaan kereta api tersebut. Selain menjualkan makanan dari kereta satu ke kereta lainnya. Mereka juga menyediakan sebuah kereta makan. Dimana kita dapat memesan makanan sesuai dengan menu yang tersedia. Dengan catatan, makan dikereta makan harus sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Diluar dari jam makan, mereka hanya menjual makanan ringan dan minuman.

Hampir sehari semalam kami berada didalam kereta, suhu udara diluar sudah menurun dari saat kami berada di Hongkong. Tetapi salju belum juga tampak dari pandangan. Pada akhirnya, sekitar 1 jam perjalanan dari beijing. Barulah sisa-sisa salju tampak dipinggiran jalan dan tembok rumah rakyat. Tidak sabar rasanya ingin cepat tiba di Beijing dan menikmati hari-hari disana. Dan akhirnya 24 jam berlalu, dengan sedikit keterlambatan kereta dari Hunghom statsiun akhirnya berhenti di Bejing West station. Read the rest of this entry »

Written by nRa

Thursday, February 11, 2010 at 12:15 am

Hongkong – Beijing (Bagian 1)

with 35 comments

Perjalanan di Hongkong dan pengurusan China visa.

Kali ini liburan musim dingin akan saya habiskan dinegeri seberang (nyeberang Taiwan). Rencana perjalanan sudah diatur sedemikian rupa, dengan berbagai persiapan lainnya. Keinginan untuk menuju Hongkong dan Beijing akhirnya tercapai, setelah 5 buah tiket pesawat China Airlines digenggam ditangan.

Tanggal 27 januari, 5 orang sahabat akan memulai perjalanan musim dingin ditempat yang memang sangat dingin 😀 . Seminggu sebelum tanggal 27, Beijing mengalami badai salju dan membuat transportasi kota itu lumpuh total. Berbekal berita tersebut, segala persiapanpun harus disiapkan dengan matang. Jaket tebal, penghangat tangan, sarung tangan dll dsb suatu keharusan yang harus dibawa. Saya kira cukup persiapan yang harus dijelaskan, saatnya kita mengikuti tur para turis yang berkedok backpacker ini (suatu saat akan mengerti kenapa dikatakan turis berkedok backpacker).

Pada hari itu, pesawat China Airlines akan meninggalkan Taipei pada pukul 21.30 menuju Hongkong. Pukul 23.15 pesawat mendarat di bandara Hongkong. Perjalanan ke Hongkong sengaja dipilih pada malam hari, dengan harapan keesokan harinya dapat mengurus China visa tepat waktu. Dari rencana perkiraan waktu, pengurusan China visa dapat dilakukan dikantor China Resources Building, Wancai, Hongkong Island.  Pengurusan visa dapat dilakukan sehari, dalam artian hari ini melakukan pengurusan dan keesokan hari visa akan selesai. Biaya pengurusan visa sebesar HK$ 400 (dari website). Pengurusan visa juga dapat dilakukan dibandara Hongkong, melalui CTS (China Travel Services). Biaya yang dibutuhkan sekitar HK$ 1000, mengurus dipagi hari, sore hari visa akan selesai. Mengingat waktu dan keterbatasan dana, kami mencoba alternatif lain untuk mengurus China visa. Sebagai informasi, di Taipei kita tidak dapat mengurus China visa. Karena ada perseteruan yang terselubung antara China – Taiwan. Negara terdekat dari Taiwan untuk mengurus China visa adalah Hongkong. Info terkait pengurusan China visa di Hongkong (http://www.fmcoprc.gov.hk/eng/zgqz/bgfwxx/default.htm)

*Tips : Jika memutuskan untuk bermalam dibandara Hongkong, saya sarankan untuk keluar dari imigrasi. Karena setelah keluar dari imigrasi, kita dapat menuju departure hall, dan disana lebih banyak tempat makan dan toko-toko. Berbeda dengan bandara Changi Singapore, dimana suasana didalam bandara (sebelum keluar imigrasi) lebih nyaman dari pada diluar. Read the rest of this entry »

Written by nRa

Wednesday, February 10, 2010 at 12:54 am