Catatan Kecil

LiVe is SimPle… makE a choiCe, doN’t Look bAck, and Do yoUr beSt.

Archive for the ‘Oh negeri ku’ Category

Selamat Jalan Sang Legenda – Sepakbola Indonesia Berduka

with one comment

Legenda itu bernama Ronny Pattinasarani, dia itu telah pergi kemaren, meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Meninggalkan pekerjaannya yang belum tuntas. Meninggalkan harapan agar kelak sepak bola negeri ini dapat berprestasi ditingkat internasional. Itulah sekelumit cita-cita dan keinginan yang dimiliki oleh bung Ronny.

Membangun sepak bola Indonesia memang tidak dapat dilakukan secara instant, dimulai dengan pembibitan yang baik dan berkesinambungan… diharapkan kelak akan muncul generasi-generasi pesepakbola yang dapat mengharumkan nama bangsa. Semoga cita-cita beliau didengar oleh bapak-bapak yang sedang duduk di PSSI.

Majulah sepakbola tanah air ku!!!

Read the rest of this entry »

Advertisements

Written by nRa

Saturday, September 20, 2008 at 3:14 pm

Posted in Oh negeri ku

Tagged with ,

Hormat Ku Untuk Mu PAHLAWAN Bangsa – Riset dan Industri (Part 2)

with 4 comments

Perkembangan penelitian dan dunia industri di negara kita masih berjalan secara terpisah. Belum sepenuhnya industri-industri di Indonesia memanfaatkan hasil penelitian dari dalam negeri sendiri. Jika dunia industri Indonesia masih mengharapkan perkembangan teknologi dari luar, kapankah kesempatan itu datang untuk peneliti-peneliti asli bangsa sendiri? Dunia industri tidak sepenuhnya dapat kita salahkan tentang keadaan yang negara kita alami saat ini. Hasil penelitian yang masih kalah kelas dengan luar negeri menjadi salah satu faktor mengapa dunia industri tertarik dengan teknologi luar. Tanggapan wakil presiden Yusuf Kalla tentang kurangnya kesempatan kepada para peneliti lokal untuk berpartisipasi dalam pembangunan diharapkan dapat membuka pintu bagi dunia industri untuk memberikan kesempatan kepada para peneliti Indonesia.

“Walupun ada sedikit kekurangan dari mereka peneliti lokal, anggap saja itu proses pembelajaran… jika tidak begitu, berarti kita tidak akan pernah belajar”

Kira-kira seperti itulah tanggapan beliau pada salah satu acara resmi yang dihadirinya (saya lupa nama acaranya).

Pemerintah Indonesia juga diharapkan tanggap terhadap masalah ini. Hal tersebut dapat dilakukan dari masalah yang kecil terlebih dahulu. Mungkin untuk teknologi pangan dan pertanian, saya kira para peneliti lokal sangat mampu untuk mengaplikasikan bahkan menciptakan teknologi tepat guna bagi bangsa ini. Proses pembangunan juga dapat kita jadikan contoh. Dalam pembangunan jalan tol misalnya, jangan terus-menerus bergantung pada konstruktor asing… kita dapat menggunakan tenaga ‘tukang insinyur’ istilah bang doel lokal untuk melakukan proses pembangunan tersebut.

Sumber daya manusia Indonesia sebenarnya tidak kalah jika dibandingkan dengan sumber daya luar negeri. Indonesia memiliki banyak siswa/i berprestasi tingkat dunia. Lihat saja dari prestasi-prestasi olimpiade sains internasional yang mereka ikuti. Kekurangan yang kita rasakan sekarang adalah kesempatan dan dukungan bagi mereka. Kesempatan untuk terus berprestasi hingga jenjang yang lebih tinggi dan dukungan dari segala sektor (terutama pemerintah) untuk mereka dan tentunya bagi bangsa ini. Jika kesempatan dan dukungan telah kita miliki, kita tinggal membentuk ekosistem penelitian yang kondusif. Sehingga dunia industri juga dapat merasakan hasil dari penelitian yang Indonesia lakukan.

Hal terakhir yang ingin saya tanggapi adalah tentang kemakmuran rakyat Indonesia. Bagaimana bangsa ini akan makmur jika kesejahteraan pendidikan belum terpenuhi. Pendidikan sangat dibutuhkan bangsa ini, pendidikan akan menuntun masyarakat ke pola pikir yang lebih matang. Pemerintah semestinya menjadi aktor terdepan dalam masalah pendidikan bangsa. Kesejahteraan tenaga pengajar seharusnya menjadi salah satu prioritas. Sehingga mereka dapat lebih memfokuskan aktifitas mereka di dunia pendidikan. Untuk bidang penelitian dan pendidikan tinggi… sepertinya harus dibangun suatu ekosistem yang kondusif untuk bidang ini. Kesejahteraan dosen-dosen dan para peneliti juga harus diperhatikan dan yang tak kalah pengtingnya adalah dedikasi yang akan kita berikan dalam bidang kemapuan kita. Jika kita semua bersikap profesional , niscaya belum terlambat untuk mewujudkan cita-cita para pejuang bangsa ini.

* Tulisan ini saya dedikasikan untuk para pahlawan yang telah berjuang bagi negara ini. Selamat hari pahlawan, semoga kami dapat mewujudkan cita-citamu. 10 Nopember 2007

Written by nRa

Saturday, November 10, 2007 at 11:19 pm

Hormat Ku Untuk Mu PAHLAWAN Bangsa – Riset dan Industri (Part 1)

leave a comment »

Sepuluh Nopember – 62 tahun sudah bangsa Indonesia lepas dari belenggu penjajahan. Semangat pantang menyerah untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat selalu dikobarkan oleh para pahlawan kita untuk bangsa Indonesia. Tusukan bambu runcing, keris yang terhunus hingga senapan hasil rampasan menjadi senjata untuk berjuang. Begitu besar jasa mereka bagi bangsa ini, apakah yang harus kita lakukan sekarang? Untuk mengenang jasa-jasa mereka, untuk mengisi kemerdekaan yang telah mereka perjuangkan dan untuk masa depan yang lebih baik bagi Indonesia! Saya tidak mengerti secara pasti cita-cita yang mereka impikan. Mungkin salah satu dari harapan mereka ketika berjuang untuk kemerdekaan negara ini adalah keinginan untuk melihat bangsa dan rakyat Indonesia hidup dalam kemakmuran.

Saya tidak akan berpanjang lebar tentang perang kemerdekaan yang telah disembahkan oleh para pahlawan untuk negara ini. Saya akan fokuskan kepada masalah bagaimana kita mencermati dan mewujudkan salah satu cita-cita diatas. Sebagai seorang pelajar masih aktif, sumbangan ide yang dapat saya berikan hanya sebatas bidang pendidikan dan penelitian. Saat ini saya hanya bisa memberikan ide dan masukan, belum dapat berbuat lebih banyak kepada bangsa ini. Semoga suatu saat saya dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi negara kita. Untuk merefleksikan hari pahlawan yang tepat jatuh pada hari ini 10 Nopember 2007, saya ingin mengulas sedikti tentang riset/penelitian dan dunia industri.

Penelitian dan dunia industri sebenarnya memiliki hubungan mutualisme (hubungan yang menguntungkan atara 2 belah pihak). Kenapa mereka memiliki hubungan mutualisme? Sinergi yang akan dihasilkan ketika kedua komponen tersebut saling membutuhkan akan menghasilkan suatu keuntungan yang besar bagi keduanya. Berawal dari hubungan saling membutuhkan diantara keduanya, para peneliti membutuhkan dunia industri sebagai ladang untuk menerapkan hasil risetnya, dunia industri membutuhkan peneliti untuk mengaplikasikan/menciptakan teknologi yang berguna bagi perkembangan dan kehidupan ‘dapur’ mereka. Dari situlah titik pandang yang perlu kita pahami secara bersama. Negara-negara maju telah menjadikan peneliti sebagai salah satu faktor penting dalam perkembangan industri mereka.

Written by nRa

Saturday, November 10, 2007 at 10:12 pm

PaNcasIla sAkTi (i dan T boleh ditukar posisinya)

with 8 comments

<Dibaca dengan keras dan lantang seperti waktu upacara semasa sekolah dahulu>

 Pancasila :

  1. Ketuhanan yang maha Esa
  2. 3. 4. dan 5. (masih sama, tidak mengalami perubahan :p )

Itulah bunyi sila-sila Pancasila yang saya kenal selama ini. Sejak menginjakkan kaki ke bangku sekolah dasar (saya gak pake TK) hingga SMU, hampir setiap upacara bendera saya menyebutkan sila-sila tersebut dengan lantang.

Bertepatan dengan hari Kesaktian Pancasila yang jatuh ada hari ini (1 Oktober 2007), ingin rasanya melihat kembali kebelakang. Mungkin dahulunya Pancasila memang Sakti, PKI aja gak bisa ngejatuhin Pancasila (semoga sejarah gak menipu saya n teman-teman sekolah saya :D). Tapi lihatlah sekarang ini… dilingkungan kita, tempat tinggal kita, dan negara yang kita cintai ini.

  • Sila ke-1, masih okelah…
  • Sila ke-2, apakah kebanyakan manusia Indonesia masih beradab? (pertanyaan juga tertuju untuk saya sendiri)
  • Sila ke-3, semoga gak ada gejolak-gejolak lagi didaerah yang ingin memisahkan diri dari negara kesatuan ini
  • Sila ke-4, nah yang ini saya lupa… menurut hemat saya, sila ke-4 ini yang paling gak relevan sama keadaan negara kita sekarang ini. Seharusnya rakyat menjadi prioritas utama dalam pembangunan, pendidikan, kesehatan, bahkan dalam mengambil keputusan-keputusan negara. Tapi nyatanya… malah wakil rakyat yang mendapatkan semua itu. Rakyatnya… malah bingung gak ngerti apa-apa n gak dapet apa-apa.
  • sila ke-5, ini lagi… masih sangat jauh dari keadaaan yang diharapkan.

Apapun kondisi yang kita alami sekarang… Pancasila masih tetap menjadi landasan negara ini. Semoga dikemudian hari sila-sila Pancasila dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat Indonesia. Amin.

Pancasila

PS: Kenapa gak saya tulis lengkap… karena saya lupa sila ke-4. Lebih bahaya nantinya kalo saya salah tulis :D.

Written by nRa

Monday, October 1, 2007 at 8:03 am

Posted in Oh negeri ku