Catatan Kecil

LiVe is SimPle… makE a choiCe, doN’t Look bAck, and Do yoUr beSt.

Posts Tagged ‘Idul Fitri

Yuk Mudik

with 2 comments

Istilah mudik tidak hanya dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Secara universal berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia, mudik berarti pergi ke hulu atau berangkat kembali. Uniknya tradisi mudik ini hanya berlangsung sekali setahun bagi yang mengalaminya.

Tradisi ini biasanya bertepatan dengan perayaan hari besar keagamaan atau hari besar yang sudah menjadi tradisi turun temurun. Kalau kita ingin melihat secara global, lihatlah pergerakan masyarakat China keturunan, yang selalu pulang kekampung halamannya saat perayaan imlek. Boleh dikatakan mudiknya warga China keturunan tersebut merupakan contoh mudik terbesar didunia. Di negara kita, mudik besar-besarkan terjadi saat perayaan hari raya Idul Fitri. Dimana banyak umat muslim yang ingin merayakan hari kemenangan bersama keluarganya dikampung halaman.

Bicara tentang mudik, saya sudah mengalami berbagai situasi tentang mudik ini. Terutama dengan alat transportasi yang digunakan. Sebagai anak rantau yang dari kecil sudah berada jauh dari orang tua, mudik adalah perkara wajib bagi saya pribadi.

Ketika SMU mudik saya lakukan bersama-sama teman sekolah, kembali ke Tanjung Pinang dari Pekanbaru. Pada saat itu, transportasi udara belum terkenal seperti saat ini. Satu-satunya akses transportasi dari Pekanbaru-Tanjungpinang adalah kapal ferry dari Selat Panjang. Untuk menuju Selat Panjang, kami harus menaiki kapal kayu “Jelatik Express” dari pelabuhan Sungai Duku – Pekanbaru. Perjalanan ditempuh dari pukul 18.00 hingga pukul 05.00 subuh keesokan harinya. Kapal ini cukup memberikan kenangan bagi kami siswa SMU PLUS dari Kepulauan Riau. Setelah sampai di Selat Panjang, perjalan disambung dengan Kapal Ferry dan akhirnya kami dapat menghirup udara Tanjungpinang sekitar pukul 17.00 sore hari. Sebuah perjalanan panjang, tetapi sangat menyenangnkan jika dilakukan bersama teman-teman seperjuangan. Read the rest of this entry »

Advertisements

Written by nRa

Thursday, August 25, 2011 at 12:15 am

Sholat Jumat di Hari raya Idul Fitri / Idul Adha

with 5 comments

Oleh: KH. M. Shiddiq Al-Jawi
1. Pendahuluan

Seperti kita ketahui, terkadang hari raya Idul Fitri atau Idul Adha jatuh pada hari Jumat. Misalnya saja yang terjadi pada tahun ini (2009), Idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah 1430 H akan jatuh pada hari Jumat 27 Nopember 2009. Di sinilah mungkin di antara kita ada yang bertanya, apakah sholat Jumat masih diwajibkan pada hari raya? Apakah kalau seseorang sudah sholat Ied berarti boleh tidak sholat Jumat? Tulisan ini berusaha menjawab pertanyaan semacam itu dengan melakukan penelusuran pendapat ulama, dalil-dalilnya, dan pentarjihan (mengambil yang terkuat) dari dalil-dalil tersebut.

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum shalat Jumat yang jatuh bertepatan dengan hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Dalam kitab Rahmatul Ummah fi Ikhtilaf Al A`immah karya Imam Ad Dimasyqi, disebutkan bahwa :

“Apabila hari raya bertepatan dengan hari Jumat, maka menurut pendapat Imam Asy Syafi’i yang shahih, bahwa shalat Jumat tidak gugur dari penduduk kampung yang mengerjakan shalat Jumat. Adapun bagi orang yang datang dari kampung lain, gugur Jumatnya. Demikian menurut pendapat Imam Asy Syafi’i yang shahih. Maka jika mereka telah shalat hari raya, boleh bagi mereka terus pulang, tanpa mengikuti shalat Jumat. Menurut pendapat Imam Abu Hanifah, bagi penduduk kampung wajib shalat Jumat. Menurut Imam Ahmad, tidak wajib shalat Jumat baik bagi orang yang datang maupun orang yang ditempati shalat Jumat. Kewajiban shalat Jumat gugur sebab mengerjakan shalat hari raya. Tetapi mereka wajib shalat zhuhur. Menurut ‘Atha`, zhuhur dan Jumat gugur bersama-sama pada hari itu. Maka tidak ada shalat sesudah shalat hari raya selain shalat Ashar.”

Ad Dimasyqi tidak menampilkan pendapat Imam Malik. Ibnu Rusyd dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid menyatakan pendapat Imam Malik sama dengan pendapat Imam Abu Hanifah. Disebutkannya bahwa,“Imam Malik dan Abu Hanifah berpendapat,”Jika berkumpul hari raya dan Jumat, maka mukallaf dituntut untuk melaksanakannya semuanya….”

Berdasarkan keterangan di atas, jelaslah bahwa dalam masalah ini terdapat 4 (empat) pendapat :

Pertama, shalat Jumat tidak gugur dari penduduk kota (ahlul amshaar / ahlul madinah) yang di tempat mereka diselenggarakan shalat Jumat. Sedang bagi orang yang datang dari kampung atau padang gurun (ahlul badaawi / ahlul ‘aaliyah), yang di tempatnya itu tidak dilaksanakan shalat Jumat, gugur kewajiban shalat Jumatnya. Jadi jika mereka –yakni orang yang datang dari kampung — telah shalat hari raya, boleh mereka terus pulang, tanpa mengikuti shalat Jumat. Inilah pendapat Imam Syafi’i. Ini pula pendapat Utsman dan Umar bin Abdul Aziz.

Kedua, shalat Jumat wajib tetap ditunaikan, baik oleh penduduk kota yang ditempati shalat Jumat maupun oleh penduduk yang datang dari kampung. Ini pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Malik. Jadi, shalat Jumat tetap wajib dan tidak gugur dengan ditunaikannya shalat hari raya.

Ketiga, tidak wajib shalat Jumat baik bagi orang yang datang maupun bagi orang yang ditempati shalat Jumat. Tetapi mereka wajib shalat zhuhur. Demikian pendapat Imam Ahmad.

Keempat, zhuhur dan Jumat gugur sama-sama gugur kewajibannya pada hari itu. Jadi setelah shalat hari raya, tak ada lagi shalat sesudahnya selain shalat Ashar. Demikian pendapat ‘Atha` bin Abi Rabbah. Dikatakan, ini juga pendapat Ibnu Zubayr dan ‘Ali.

2.Pendapat Yang Rajih

Kami mendapatkan kesimpulan, bahwa pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal, rahimahullah. Rincian hukumnya adalah sebagai berikut:

Hukum Pertama, jika seseorang telah menunaikan shalat hari raya -yang jatuh bertepatan dengan hari Jumat- gugurlah kewajiban atasnya untuk menunaikan shalat Jumat. Dia boleh melaksanakan shalat Jumat dan boleh juga tidak.

Hukum Kedua, bagi mereka yang telah menunaikan shalat hari raya tersebut, lebih utama dan disunnahkan tetap melaksanakan shalat Jumat.

Hukum Ketiga, jika orang yang telah menunaikan shalat hari raya tersebut memilih untuk tidak menunaikan shalat Jumat, wajib melaksanakan shalat zhuhur, tidak boleh meninggalkan zhuhur.

Hukum Keempat, mereka yang pada pagi harinya tidak melaksanakan shalat hari raya, wajib atasnya untuk menunaikan shalat Jumat, tidak dibenarkan baginya untuk meninggalkan shalat Jumat.

Keterangan mengenai masing-masing hukum tersebut akan diuraikan pada poin berikutnya, Insya Allah.

Read the rest of this entry »

Written by nRa

Thursday, November 26, 2009 at 2:39 am

Posted in al-Islam

Tagged with , ,

Taipei juga lebaran

with 7 comments

Foto bersama setelah sholat Ied

Tahun ini adalah tahun kedua saya menjalankan ramadhan dan idul fitri di Taipei. Jika ingin mencari suasana lebaran yang meriah seperti di Indonesia sepertinya sangat mustahil dijumpai disini. Ya, di Indonesialah lebaran terasa begitu meriah. Mulai dari proses mudik, silaturahmi sanak keluarga hingga berbagai jenis makanan khas lebaran yang tersaji selama beberapa hari bahkan dalam beberapa pekan.

Sama halnya dengan tahun sebelumnya, pada tanggal 29 Ramadhan umat muslim yang berada di Taipei harus berjaga untuk menerima kabar dari Taipei Grand Mosque. Apakah Ramadhan tahun ini genap 30 hari ataukan hanya 29 hari saja. Kabar tersebut harus ditunggu mengingat pemerintah Arab Saudi baru akan menetapkan jatuhnya 1 Syawal pada saat magrib. Mengingat perbedaan waktu yang signifikan antara Taipei dan Mekah, umat muslim di Taipei harus menunggu hingga pukul 1 dini hari.

Tepat pukul 1 WIT (Waktu Indonesia bag Taipei) tanggal 30 Sept 2008, saya mendapat kabar bahwa umat muslim di Taipei akan melaksanakan sholat Ied pada hari Selasa. Sholat berpusat di Taipei Grand Mosque. Tanpa membuang banyak waktu sayapun berbegas untuk melanjutkan perjalanan diatas kasur 🙂

Pagi harinya umat muslim berbondong-bondong datang ke Mesjid Besar Taipei untuk melaksanakan sholat Ied. Jika ingin merasakan suasana lebaran di Taipei, disinilah tempatnya. Keluar dari lingkungan mesjid ini, suasana lebaran sudah tidak akan terasa lagi. Bahkan ada beberapa teman yang harus segera meninggalkan mesjid tepat setelah sholat selesai, karena ada kuliah yang harus dijalani. Mengingat disini lebaran bukan merupakan hari libur nasional. Silaturahim adalah tujuan utama dari idul fitri, bersalam-salaman satu dengan lainnya, memohon maaf atas segala kesalahan yang telah diperbuat dan memper erat tali persaudaraan.

Open house dirumah Pak Suhartono

Hal yang paling utama dicari sudah pasti adalah makanan khas lebaran, seperti ketupat, opor ayam, rendang dkk. Sepertinya bakalan gak ada acara makan-makan nih dipagi lebaran ini 😦 . Alhamdulillah, masyarakat muslim Indonesia di Taipei mendapatkan undangan dari Bapak Suhartono dan keluarga (Kepala Kantor Dagang Ekonomi Indonesia di Taipei) yang mengadakan open house. Makan khas idul fitri pun dapat kami nikmati bersama-sama layaknya menjalani lebaran di Indonesia.

* Tahun depan ane lebaran dimana yah? Klo di Eropa gimana yah rasanya? … hihihih 🙂

Foto bareng lagi

*Thanks to Rizki atas foto-fotonya, hari ini saya off duty … lagi libur lebaran 🙂

Written by nRa

Wednesday, October 1, 2008 at 7:11 am

Eid Mubarak 1429 H

with 3 comments

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar

La Illaha Il Allah… Allahu Akbar

Allahu Akbar Waliillahil Hamd

Takbir menggema diseluruh penjuru dunia, mengagungkan namaMu ya Allah. Begitu kecilnya makhluk ciptaanMu yang satu ini, jika dibandingkan dengan kebesaranMU. Setelah sebulan lamanya ditempa dan dididik untuk lebih mengenal Mu ya Allah, akhirnya hari nan fitri ini tiba. Semoga semangat Ramadhan masih tetap akan bersama kami hingga kami bertemu dengan Ramadhan tahun depan ya Allah.

Hari ini kami bertakbir, bertasbih dan bertahmid. Mengajak sanak saudara, anak dan cucu, kerabat dan handai taulan untuk mengagungkan namaMu ya Allah. Berilah kami keberkahan Idul Fitri kali ini ya Allah, semoga kami menjadi orang-orang yang kembali. Kembali kepada jalanMu ya Allah. Semoga kami menjadi orang-orang yang fitrah, amiin.

Sanak saudara, teman-teman, kerabat dan kepada siapa saja. Dihari yang fitri ini izinkanlah saya mengucapkan Taqobalallah minna wamin kum taqobbal yaa kariim, syiyamana wa syiyamukum , minal ‘aidzin wal faizin. Kullu ‘amm wa antum bi khoir. Mohon maaf lahir dan batin.

Written by nRa

Tuesday, September 30, 2008 at 6:57 am

Eid Mubarak – Taqabbalallahu Minna Wa Minkum

with one comment

Embun yang indah dipagi hari
Terasa nyaman dan menyejukkan
Selamat menyambut hari nan fitri
Mohon maaf lahir dan batin saya pintakan

Taqabbalallahu Minna Wa Minkum
Minal Aidzin Wal Faidzin

Wishing you… Health, Happiness and Prosperity.

ketupat lebaran

Written by nRa

Thursday, October 11, 2007 at 5:40 am

Posted in al-Islam

Tagged with